Edukasi dan Konseling Mengenai Gizi Seimbang Sejak Usia Dini

Dilihat : 5518 Kali, Updated: Jumat, 29 Januari 2016
Edukasi dan Konseling Mengenai Gizi Seimbang Sejak Usia Dini

Memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) 25 Januari, RSUD Banyumas menggelar edukasi dan konseling mengenai gizi seimbang sejak usia dini. Sasaran kegiatan tersebut adalah keluarga pasien dan masyarakat umum.

Direktur RSUD Banyumas dokter AR Siswanto Budiwiyoto mengatakan, edukasi dan konseling gizi sangat penting. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 terungkap, hanya sekitar separuh anak Indonesia yang berstatus gizi normal.

Sisanya kurus, pendek, gemuk dan anemia, baik pada usia balita maupun usia sekolah. Kekurangan dan kelebihan gizi akan mempengaruhi kualitas dan daya saing sumber daya manusia.

Menurut dia, dalam upaya percepatan perbaikan gizi, setiap tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN). HGN 2016 mengangkat tema soal perbaikan gizi 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). ”Seribu HPK merupakan masa selama 270 hari (9 bulan) dalam kandungan serta 730 hari (dua tahun pertama) setelah lahir,” jelasnya.

Kepala Instalasi Gizi RSUD Banyumas Fachrurozi SGz mengatakan, institusi yang dipimpinnya mempunyai tugas pokok sebagai unit penyelenggaraan makanan, pelayanan gizi rawat inap, penyuluhan dan konsultasi gizi, serta pendidikan dan pelatihan gizi terapan.

”Poli Konsultasi Gizi yang dibuka RSUD Banyumas makin banyak didatangi pasien. Mereka berkonsultasi tentang makanan bergizi, ciri-ciri anak kurang gizi dan cara mengatasi. Selama 2015, jumlah yang berkonsultasi 248 orang, terdiri atas 229 pasien dewasa (92,3%) dan 19 pasien bayi dan anak (7,7%),” paparnya.

Staf ahli gizi Betty Irmawati menambahkan, Poli Konsultasi Gizi RSUD Banyumas bertempat di Instalasi Gizi, buka setiap hari jam kerja pada Senin-Sabtu. Jumlah ahli gizi yang bertugas 12 orang, bergantian sesuai jadwal.

Pasien umum dari bagian pendaftaran bisa langsung ditangani di poli klinik. Tapi pasien dengan BPJS harus berdasarkan rujukan dari poliklinik spesialis di rumah sakit. Ia menjelaskan, edukasi antara lain dilakukan dengan menyebar leaflet dan praktik membuat model-model makanan sederhana tapi bergizi.

Ada pula penyuluhan kesehatan rumah sakit (PKRS) yang ditujukan bagi penunggu pasien atau pengunjung rumah sakit secara berkelompok. Materi yang diberikan antara lain gizi untuk ibu hamil, ASI eksklusif, dan makanan pendamping ASI olahan sendiri.

 

sumber : Suara Merdeka

Komentar