Pelayanan Terpadu Thalasemia di RSUD Banyumas

Dilihat : 6332 Kali, Updated: Selasa, 19 Januari 2016
Pelayanan Terpadu Thalasemia di RSUD Banyumas

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas sebagai pusat thalasemia kini makin berkembang. Bahkan semakin mendapat apresiasi positif baik pasien atau pelanggan dari Banyumas maupun luar Banyumas, seperti Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, Kebumen, Brebes, Pemalang dan Pekalongan.

Direktur RSUD Banyumas dokter Siswanto AR MKes menjelaskan, saat didirikan Mei 2011 tercatat hanya ada 68 pasien. Pada tahun 2015 sudah mencapai 390 orang. Pasien yang datang pun bervariasi mulai anak-anak sampai orang dewasa, bahkan ada yang usia lanjut.

Dengan semakin banyaknya pelanggan yang datang, maka RSUD Banyumas sebagai pusat thalasemia akan dikembangkan menjadi pelayanan unit thalasemia terpadu. ”Alasan pengembangan pelayanan thalasemia terpadu adalah agar pelanggan mendapatkan pelayanan yang komprehensif.

Misalnya bisa mendapatkan pelayanan unit penyakit dalam, orthopedi, mulut dan gigi, kulit dan lain-lain agar mampu meningkatkan umur harapan hidup, meningkatkan kesehatan masyarakat thalasemia,” terangnya.

Menurut dr Hartono, seorang dokter spesialis anak RSUD Banyumas menjelaskan thalasemia adalah kelainan darah yang diturunkan dimana tubuh tidak memproduksi cukup hemoglobin yang normal sehingga mengakibatkan jumlah hemoglobin di dalam tubuh menjadi rendah.

Hemoglobin adalah protein pembentuk sel darah merah yang berguna untuk mengikat oksigen dan membawanya ke seluruh tubuh. Saat tubuh kekurangan hemoglobin, sel darah merah tidak bisa berfungsi dengan baik dan hanya dapat hidup untuk waktu yang pendek.

Gejala Thalasemia

”Karena sedikitnya sel darah merah sehat yang beredar ke seluruh tubuh, maka oksigen yang diantarkan ke seluruh tubuh tidak cukup dan mengakibatkan seseorang terkena anemia dengan gejala mudah merasa lelah, lemah, dan bahkan sesak napas. Orang dengan thalasemia dapat mengalami anemia ringan ataupun berat.

Anemia berat dapat mengakibatkan kerusakan organ dan mengakibatkan kematian,” terangnya. Menurut dr Hartono tanda dan gejala anemia muncul tergantung pada tipe dan keparahan thalasemia.

Bentuk paling berat dari thalasemia adalah thalasemia alpha major yang biasanya mengakibatkan bayi meninggal sebelum atau sesaat setelah dilahirkan. Gejala umum thalasemia antara lain mudah lelah, lemah, terlihat pucat.

Kemudian warna kulit kekuningan, kelainan bentuk tulang wajah, pertumbuhan yang lambat, pembengkakan perut akibat pembengkakan limpa dan urin yang berwarna gelap.

Thalasemia terjadi saat terdapat kerusakan pada gen yang membantu pengaturan produksi salah satu protein tersebut. Pengobatan terhadap penderita thalasemia, kata dr Hartono, adalah transfusi darah secara teratur dan suplemen folat.

Saat seseorang menerima transfusi darah, sebaiknya ia tidak mengonsumsi suplemen zat besi, karena hal tersebut akan meningkatkan jumlah zat besi di dalam tubuh yang apabila terlalu berlebihan dan menumpuk akan merusak jantung, hati, dan sistem endokrin.

Dia menambahkan thalasemia merupakan penyakit yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya, maka thalasemia sangat sulit untuk dicegah. Pencegahan paling efektif adalah dengan menghindari pernikahan pada penderita yang memilki risiko tinggi terhadap thalasemia.

 

sumber : Suara Merdeka

Komentar