Kontribusi Kita untuk Menghentikan Stigma Pasien Covid-19

Kontribusi Kita untuk Menghentikan Stigma Pasien Covid-19

Kontribusi Kita untuk Menghentikan Stigma Pasien Covid-19

 

Stigma lebih berbahaya dari virus itu sendiri. Stigma adalah musuh paling berbahaya (Direktur Jendral WHO, dr. Tedros Adhanom G).

Pemberian stigma ini didorong oleh kekhawatiran, ketakutan, dan kegelisahan diakibatkan rendahnya pemahaman dan sikap kritis terhadap informasi yang diterima lewat media, media sosial, dan juga intimidasi para provokator.

Stigma sosial: konotasi negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang dengan menyandang penyakit tertentu. Tentunya ini akan sangat berbayaya sekali karena akan membuat orang memnyembunyikan status kesehatan, lalu enggan memeriksakan diri dan pada akhirnya akan membuat orang kabur saat akan diperiksa, diobati atau bahkan dikarantina. Sehingga memperbesar resiko penularan di masyarakat. Belum lagi dampak psikologis yang sangat mempengaruhi Kesehatan fisik.

Daripada menunjukkan stigma sosial, alangkah lebih bijak jika kita berkontribusi secara sosial, yaitu dengan: 1) membangun rasa percaya pada layanan dan saran kesehatan yang bisa diandalkan; 2) menunjukkan empati terhadap mereka yang terdampak; 3) memahami wabah itu sendiri; dan, 4) melakukan upaya yang praktis dan efektif sehingga orang bisa menjaga keselamatan diri dan orang yang mereka cintai.5). Stop Hoax, 6) Stop Labeling.

Apa itu Stigma? 

Dati berbagai regerensi, Berikut beberapa pengertian dan definisi stigma dari beberapa sumber buku:

  1. Stigma adalah suatu usaha untuk label tertentu sebagai sekelompok orang yang kurang patut dihormati daripada yang lain (Research, 2009). 
  1. Stigma adalah sebuah fenomena yang terjadi ketika seseorang diberikan labeling, stereotip, separation, dan mengalami diskriminasi (Scheid & Brown, 2010). 
  2. Stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya (Mansyur, 1997). 
  3. Stigma adalah segala bentuk atribut fisik dan sosial yang mengurangi identitas social seseorang, mendiskualifikasikan orang itu dari penerimaan seseorang (Goffman, 1959).

Bentuk dan Jenis Stigma 

Menurut (Rahman, 2013), terdapat beberapa bentuk stigma dalam masyarakat, yaitu:

  1. Labeling adalah pembedaan dan memberikan label atau penamaan berdasarkan perbedaan-perbedaan yang dimiliki anggota masyarakat tersebut. Sebagian besar perbedaan individu tidak dianggap relevan secara sosial, namun beberapa perbedaan yang diberikan dapat menonjol secara sosial.
  2. Stereotip adalah kerangka berpikir atau aspek kognitif yang terdiri dari pengetahuan dan keyakinan tentang kelompok sosial dan traits tertentu.Stereotip merupakan keyakinan mengenai karakteristik yang merupakan keyakinan tentang atribut personal yang dimiliki oleh orang-orang dalam suatu kelompok atau kategori sosial tertentu.
  3. Separation adalah pemisahan "kita" (sebagai pihak yang tidak memiliki stigma atau pemberi stigma) dengan "mereka" (kelompok yang mendapatkan stigma). Hubungan label dengan atribut negatif akan menjadi suatu pembenaran ketika individu yang dilabel percaya bahwa dirinya memang berbeda sehingga hal tersebut dapat dikatakan bahwa proses pemberian stereotip berhasil.
  4. Diskriminasi adalah perilaku yang merendahkan orang lain karena keanggotaannya dalam suatu kelompok . Diskriminasi adalah komponen behavioral yang merupakan perilaku negatif terhadap individu karena individu tersebut adalah anggota dari kelompok tertentu.

Penyebab Terjadinya Stigma 

Menurut Goffman (1959), terdapat beberapa penyebab terjadinya stigma yaitu sebagai berikut:

  • Takut. Ketakutan merupakan penyebab umum terjadinya stigma. Kemunculan takut adalah konsekuensi yang diperoleh jika tertular, bahkan penderita cenderung takut terhadap konsekuensi sosial dari pengungkapan kondisi sebenarnya. 
  • Tidak menarik. Beberapa kondisi dapat menyebabkan orang dianggap tidak menarik, terutama dalam budaya dimana keindahan lahiriah sangat dihargai. Dalam hal ini gangguan pada anggota tubuh akan ditolak masyarakat karena terlihat berbeda.
  • Kegelisahan. Kecacatan membuat penderita tidak nyaman, mereka mungkin tidak tahu bagaimana berperilaku di hadapan orang dengan kondisi yang di alaminya sehingga cenderung menghindar. 
  • Asosiasi. Stigma oleh asosiasi juga dikenal sebagai stigma simbolik, hal ini terjadi ketika kondisi kesehatan dikaitkan dengan kondisi yang tidak menyenangkan seperti pekerja seks komersial, pengguna narkoba, orientasi seksual tertentu, kemiskinan atau kehilangan pekerjaan. Nilai dan keyakinan dapat memainkan peran yang kuat dalam menciptakan atau mempertahankan stigma. 
  • Kebijakan atau Undang-undang. Hal ini biasa terlihat ketika penderita dirawat di tempat yang terpisah dan waktu yang khusus dari Rumah Sakit, seperti: klinik sakit jiwa, klinik penyakit seksual menular atau klinik rahabilitasi ketergantungan obat.
  • Kurangnya kerahasiaan. Pengungkapan yang tidak diinginkan dari kondisi seseorang dapat disebabkan cara penanganan hasil tes yang sengaja dilakukan oleh tenaga kesehatan, ini mungkin benar-benar tidak diinginkan seperti pengiriman dari pengingat surat atau kunjungan pekerja kesehatan di kendaraan ditandai dengan pro logo gram. 

Proses Terjadinya Stigma 

Stigma terjadi karena individu memiliki beberapa atribut dan karakter dari identitas sosialnya namun akhirnya terjadi devaluasi pada konteks tertentu. Menurut Scheid & Brown (2010), proses terjadinya stigma adalah sebagai berikut:

  1. Individu membedakan dan memberikan label atas perbedaan yang dimiliki oleh individu tersebut.
  2. Munculnya keyakinan dari budaya yang dimiliki individu terhadap karakteristik individu atau kelompok lain dan menimbulkan stereotip. 
  3. Menempatkan individu atau kelompok yang telah diberikan label pada individu atau kelompok dalam kategori yang berbeda sehingga terjadi separation. 
  4. Individu yang telah diberikan label mengalami diskriminasi.

 Bersama kita bisa 

Stop Stigma Pasien Covid-19

Salam Sehat 

Related Posts

Komentar