Pasien Klinik Bedah Anak RSUD Banyumas Meningkat

Dilihat : 9424 Kali, Updated: 06 04 2015 12:22:57
Pasien Klinik Bedah Anak RSUD Banyumas Meningkat

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas terus menambah klinik pelayanan spesialis, salah satunya Klinik Spesialis Bedah Anak.

Klinik tersebut dibuka karena tren penyakit bedah pada anak makin meningkat. Wakil Direktur Pelayanan RSUD Banyumas dokter Supraptini MKes mengatakan, klinik itu dibuka sejak 2014. Sejak dibuka, jumlah kunjungan di klinik tersebut terus meningkat.

Penyakit-penyakit yang ditangani pun semakin banyak, termasuk penyakit hirschsprung, yakni salah satu penyakit yang biasanya terjadi pada anak-anak. ”Angka kejadian penyakit hirschsprung itu tidak diketahui secara pasti, tetapi berkisar 1 di antara 5.000 kelahiran hidup.

Misalnya, dengan jumlah penduduk Indonesia 200 juta dan tingkat kelahiran 35 permil, maka diprediksikan setiap tahun akan lahir 1.400 bayi dengan penyakit hirschsprung,” terang Supraptini. Untuk itu, kata dia, sejak 2014, RSUD Banyumas, selain membuka Klinik Spesialis Bedah Anak yang dikomandani dokter Eddy Daryanto SpB, SpBA, sekaligus juga melengkapi sarana prasarana lainnya, termasuk alatalat operasi.

Eddy mengatakan, penyakit hirschsprung merupakan salah satu penyakit yang biasanya terjadi pada anak-anak. Kelainan itu terjadi karena adanya permasalahan pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga usus di atasnya.

Gejala

Kelainan ini akan membuat buang air besar bayi tidak normal, bahkan cenderung sembelit terus menerus. Hal ini dikarenakan tidak adanya saraf yang dapat mendorong kotoran keluar dari anus.

Kotoran akan menumpuk terus di bagian bawah, hingga menyebabkan pembesaran pada usus dan juga kotoran menjadi keras sehingga bayi tidak dapat buang air besar (BAB). Ciri lain hirschprung adalah perut bayi akan kelihatan besar dan kembung serta saat kentut baunya sangat busuk. Selain itu, juga riwayat BAB-nya selalu buruk atau tidak normal.

Gejala-gejala yang terjadi pada pasien itu, kata dia, antara lain pada bayi yang baru lahir tidak dapat mengeluarkan mekonium (tinja pertama pada bayi baru lahir) lebih dari 24-48 jam setelah lahir, perut kembung, muntah, diare encer (pada bayi baru lahir), berat badan tidak bertambah jika tidak segera ditangani, tampak malas mengkonsumsi cairan, dan terkadang muntah. Klinik yang ditangani Eddy, belum lama ini, berhasil menangani pasien penyakit hirschprung.

Kini pasien yang masih berusia 3 bulan itu sudah bisa tersenyum dan riang bermain, setelah satu bulan lalu menjalani operasi di Klinik Spesialis Bedah Anak. ”Sejak lahir, bayi itu sesuai penuturan orang tuanya, sering kembung, rewel dan muntahmuntah.

Sampai berumur dua bulan, keluhan yang sama semakin sering, akhirnya di bawa ke RSUD Banyumas. Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap bayi itu menderita penyakit hirschsprung,” terangnya. Eddy menjelaskan, sampai saat ini terapi operasi adalah alternatif terbaik, meskipun penelitian tentang terapi stem cells (sel punca) untuk penyakit hirschsprung terus dikembangkan.

Komentar